carangkasa

1000210616.jpg

Awan kelabu menggantung di atas kota, membasahi jalanan dengan rintik hujan yang tak kunjung reda. Di sudut gang sempit, seorang anak kecil bernama Leo meringkuk kedinginan, tubuhnya gemetar bukan karena hawa dingin, melainkan karena rasa takut yang mendalam. Orang tuanya pergi, meninggalkannya begitu saja, tanpa pesan, tanpa janji untuk kembali.

Sebuah bayangan tinggi menghampiri Leo. Itu adalah seorang pria paruh baya dengan tatapan tajam dan senyum yang sulit diartikan. Morgan, namanya. Ia menawarkan tangan, bukan untuk menolong, melainkan untuk menggenggam takdir Leo. “Ikutlah denganku, nak. Aku akan memberimu semua yang kau inginkan,” ucap Morgan, suaranya seperti bisikan iblis yang membuai.

Leo yang putus asa menerima uluran tangan itu. Ia dibawa ke sebuah rumah tua yang gelap dan pengap. Di sanalah, Morgan memulai “pelatihan” anehnya. Ia mengajari Leo cara bertahan hidup di dunia yang kejam, mengasah naluri untuk mencuri, dan menanamkan kebencian terhadap orang lain. Setiap hari, Morgan selalu mengulang mantra yang sama: “Untuk bertahan, kau harus menjadi orang lain. Kau harus membuang Leo yang lemah.”

Sesuatu yang aneh mulai terjadi pada Leo. Di siang hari, ia adalah anak penurut yang rapuh dan pemalu, persis seperti dirinya dulu. Namun, ketika malam tiba, ia berubah menjadi Leo yang lain, sosok yang dingin, berani, dan tak kenal takut. Ia bisa bergerak dalam kegelapan tanpa suara, membuka kunci gembok dengan mudah, dan mencuri barang berharga tanpa meninggalkan jejak. Dua kepribadian yang berbeda, satu tubuh yang sama.

Suatu malam, Morgan menugaskan Leo untuk mencuri sebuah liontin dari sebuah rumah mewah. Ketika berhasil masuk, Leo mendengar suara tangisan seorang wanita. Wanita itu menangis di depan foto seorang anak kecil yang sangat mirip dengan dirinya. Hati Leo yang lama bergejolak, ia merasakan simpati dan rasa bersalah yang menusuk. Ia ingin mengembalikan liontin itu dan meminta maaf, tetapi Leo yang lain menolak. “Jangan buang waktumu untuk hal-hal sentimental,” bisik suara itu di kepalanya.

Tiba-tiba, sebuah suara berat menggelegar dari belakang. Itu adalah Morgan. “Kerja bagus, Leo,” katanya sambil tersenyum sinis. “Kau sudah menjadi persis seperti yang aku harapkan.”

Leo yang rapuh menatap Morgan dengan ketakutan, tetapi Leo yang lain menatapnya dengan kebencian. “Siapa kamu?” tanya Leo yang lain, suaranya dingin dan tegas. Morgan terkejut. Ia tidak pernah melihat sisi Leo yang ini.

“Aku adalah dirimu, Leo,” kata Morgan, “Aku adalah kelemahanmu, yang membuatmu ditinggalkan, yang membuatmu menjadi diriku.”

Mata Leo melebar. Ia tahu, ada rahasia yang lebih besar di balik semua ini. Ia tidak hanya ditinggalkan, tetapi juga dibentuk oleh seseorang yang memiliki tujuan jahat. Dan orang jahat itu tidak lain adalah Morgan, pria yang ia kira sebagai penyelamat.

Di tengah kebingungan dan kekacauan, Leo merasakan sesuatu yang hancur di dalam dirinya. Dua kepribadian itu saling bertarung, menciptakan kekacauan yang mengerikan. Saat Leo terjaga di pagi hari, ia sudah bukan lagi dirinya yang dulu. Ia sudah menjadi satu, gabungan dari kedua kepribadian yang berbeda. Ia memiliki kekuatan dan ketangkasan Leo yang lain, tetapi ia juga memiliki hati nurani dan empati dari Leo yang asli.

Leo tidak tahu siapa ia sebenarnya. Ia hanya tahu satu hal: ia harus mencari tahu mengapa Morgan meninggalkannya, dan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Dengan bayangan Morgan yang terus menghantuinya, ia melangkah maju ke dalam dunia yang penuh misteri.

 

Safiyra

0 0 votes
Nilai tulisan
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
error: konten ini terlindungi !!
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x