Di tepi Hutan Awan, hiduplah Putri Embun, gadis mungil yang lahir dari setetes embun pagi. Rambutnya berkilau seperti cahaya bulan, dan setiap langkahnya menumbuhkan bunga kecil. Suatu hari, matahari tak terbit—langit tetap gelap meski waktu menunjukkan pagi. Semua tumbuhan layu, dan sungai-sungai berhenti mengalir.
Putri Embun pun memutuskan untuk mencari penyebabnya. Dalam perjalanannya, ia bertemu seekor Burung Api, makhluk perkasa dengan sayap berkilau merah-oranye. Burung itu terluka: sebagian bulunya padam, membuat matahari tak mampu bangkit.
“Bantulah aku menemukan Api Kehidupan,” rintih Burung Api. “Tanpanya, dunia akan membeku.”
Putri Embun, meski kecil, berani. Mereka menempuh rute berbahaya: melintasi Jembatan Pelangi yang rapuh dan mendaki Gunung Batu Hitam. Ketika sampai di Puncak Angin, Putri Embun mengorbankan satu tetes embun murni dari hatinya untuk menyalakan kembali Api Kehidupan.
Api itu menyala, menyembuhkan Burung Api sepenuhnya. Burung Api lalu terbang tinggi, memanggil matahari kembali ke langit. Bunga-bunga mekar lagi, sungai-sungai mengalir, dan dunia pun hangat seperti semula.
Sejak hari itu, setiap pagi tetesan embun bersinar lebih indah—pengingat akan keberanian Putri Embun yang kecil namun berhati besar.
qnitAhraa
